Sukses KBM Pembelajaran Model Blended Learning

Model Blended Learning

Model pembelajaran blended learning sering disamakan dengan hybrid learning, ada juga yang mencoba meng-Indonesia-kan dengan istilah pembelajaran bauran, merupakan model pembelajaran yang sebenarnya sudah lama diterapkan, tetapi lebih banyak digunakan dalam kursus dan diklat. Pembelajaran ini memadukan antara kegiatan tatap muka dan e-learning. Titik tekan blended learning bukan semata transfer materi, tetapi lebih pada fasilitasi pembelajaran aktif menggunakan sumber daya berteknologi dalam situasi online, artinya materi yang diberikan bukan semata-mata menggantikan transfer materi oleh guru saat tatap muka, tetapi lebih pada kualitas belajar yang didesain agar siswa lebih aktif dan kemasan materi lebih berkualitas.

Poin penting blended learning adalah adanya tatap muka, pertemuan antara guru dan siswa di kelas. Dalam tatap muka ini dapat dilakukan diskusi tentang bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas mereka dalam e-learning, membahas materi-materi pokok, serta membahas materi yang dianggap sulit oleh siswa. Bagaimana konten e-learning? Sekurangnya mesti terdapat petunjuk pembelajaran, forum tanya jawab atau diskusi, tujuan pembelajaran, uraian materi pelajaran disertai contoh penerapannya, soal-soal latihan, dan uji akhir kompetensi (ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester), termasuk penilaian sikap dan keterampilan. Dalam aspek penilaian, siswa diberikan akses untuk melihat hasil belajar mereka, sehingga mereka tahu apa yang harusnya dilakukan, memperbaiki proses belajarnya atau mengikuti program pengayaan.

Kegiatan Belajar Siswa

Model blended learning susah-susah gampang, tetapi diyakini jauh lebih mudah dibandingkan full e-learning, bahkan dibandingkan full tatap muka sekalipun, mengapa?. Perbandingannya dengan full e-learning, maka dalam e-learning siswa dituntut 100% mandiri dalam belajar. Bimbingan guru hanya melalui LMS atau media telepon, kadang tidak cukup efektif dalam mengendalikan proses belajar siswa. Saat tatap muka penuh, interaksi siswa dengan materi hanya terjadi saat proses belajar di kelas bersama guru. Lembar Kegiatan Siswa sering kali tak dapat diakses lagi oleh siswa di rumah, bahkan file presesntasi materi yang disampaikan oleh guru saat dikelas, seringkali siswa tidak memperolehnya untuk diulang lihat di rumah. Siswa hanya mengandalkan rangkuman yang dibuatnya sendiri dan buku cetak terbitan pemerintah dan buku referensi (jika siswa punya).

Melalui e-learning, siswa dapat mengakses kembali materi kapan pun dan di mana pun. Mereka dituntut memiliki sikap tanggung jawab dan pantang menyerah dalam belajar. Siswa tidak boleh sungkan atau ragu menyampaikan pendapat atau pertanyaannya di forum dalam LMS. Setiap pertanyaan dan konfirmasi siswa akan terekam dan mendapat penilaian dari guru. Ini merupakan keuntungan, dalam full tatap muka, penilaian ini sering terlewatkan karena keterbatasan daya rekam guru. Siswa akan benar-benar sukses belajar blended learning jika mereka rajin dalam membuat catatan materi baik secara tertulis (dalam buku tulis) maupun memanfaatkan fitur copy-paste materi ke dalam file pengolah teks (misalnya open document writer atau microsoft word) dan foto/video (misalnya melalui screenshot atau rekam layar) sehingga dapat dibaca/dilihat saat kondisi offline.

Kegiatan Guru

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim dalam rapat kerja bersama dengan Komisi X DPR RI, Kamis (2/7/2020) berbicara tentang peta pendidikan Indonesia ke depan, salah satunya menyinggung tentang penerapan pembelajaran jarak jauh menggunakan hybrid learning, akan dipermanenkan. Tentu saja masih ada pro dan kontra. Bagi guru ini adalah sebuah tantangan. Menyiapkan diri sejak dini jauh lebih baik dari pada sibuk mencari alasan. Dalam blended learning, tantangan terberat guru adalah menuangkan ide, materi, dan metode penyampaian kepada siswa dalam bentuk tulisan, audio, dan/atau video. Guru yang tidak terbiasa menulis (mengetik)  akan sangat mengalami kesulitan. Oleh karena itu setiap guru wajib segera mengasah diri (meng-upgrade kompetensi) jika tidak ingin tertinggal dan ditinggalkan oleh tuntutan kemajuan pendidikan. Apa yang harus di-upgrade? Minimal adalah keterampilan menulis/mengetik, membuat konten audio/video, dan penilaian berbasis komputer.

Selain itu, tantangan yang juga muncul pada guru dalam blended learning adalah masalah pembimbingan siswa. Hal ini karena kondisi selama e-learning jelas berbeda dengan full tatap muka. Guru dituntut untuk membimbing siswa agar mengikuti proses pembelajaran secara rutin dan dapat tuntas materi dengan mengedepankan sikap tanggung jawab dan juga pantang menyerah. Latar belakang siswa yang heterogen harus menjadi acuan utama guru dalam membimbing siswa, sehingga guru tetap dapat membimbing siswa dengan pendekatan persuasif. Melalui media apa? Dalam Moodle bisa menggunakan fitur chat, forum diskusi, bahkan dalam lesson dan CBT sekalipun, dan guru dapat juga menggunakan media lain seperti telepon dan media sosial. Dalam situasi ini, setiap guru harus memberikan respon positif terhadap setiap pernyataan dan pertanyaan siswa baik di LMS maupun di media lainnya.

Kesiapan Sekolah

Blended learning bukan hanya sebuah model yang berdiri sendiri, tetapi ia mesti didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, mulai dari pembagian tugas guru, penyusunan jadwal mengajar, pengaturan kelas/siswa, penyiapan dan perawatan server LMS, koneksi internet, pelayanan kesulitan siswa dan guru, serta banyak hal lain yang saling berkaitan satu sama lain. Idealnya, untuk melaksanakan e-learning secara stabil dibutuhkan server yang andal dan jaringan internet yang memadai, sebagai gambaran saat ini jaringan internet untuk server LMS SMP Satya Dharma Sudjana hanya sebesar 20 Mbps, jauh di bawah kriteria kebutuhan LMS yaitu berkisar 100 Mbps untuk diakses kurang lebih 600 user. Kebutuhan ini perlu segera diatasi oleh pemangku kepentingan, sehingga jalannya e-learning dapat lebih lancar.

Kunci keberhasilan implementasi blended learning terletak pada pimpinan sekolah (kepala sekolah), mengapa? Karena semua aspek pembelajaran, mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan program tindak lanjut semestinya dikendalikan oleh kepala sekolah. Jika ada guru yang keluar dari rel, maka itu tugas kepala sekolah untuk mengembalikan ke jalurnya, jika ada siswa yang bermasalah, maka kunci penyelesaiannya juga di tangan kepala sekolah. Tugas kepala sekolah menyukseskan blended learning akan ringan  jika  pihak-pihak terkait (guru, wali kelas, orang tua, wali, komite, dan pengurus yayasan) telah melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. (1/9/20: gnt)